Agenda
Sekda Ternate di Diskusi Samurai: Pemimpin Harus Responsif terhadap Masalah Kota
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menegaskan pentingnya kepemimpinan yang responsif dalam merespons berbagai persoalan kota.
Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam diskusi yang digelar Solidaritas Aksi Mahasiswa untuk Rakyat Indonesia (Samurai) Maluku Utara di Pusat Interaksi Ide dan Gagasan (Pigas), Kelurahan Kalumata, Jumat, 6 Maret 2026 malam.
Diskusi yang mengangkat tema “Responsive Man: Problematika Kota dan Urgensi Kepemimpinan yang Responsif” itu menghadirkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, sebagai narasumber.
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi gagasan untuk mendorong arah pembangunan Kota Ternate yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Dalam diskusi itu, Samurai Malut juga mengangkat sejumlah isu strategis yang menjadi perhatian publik di Kota Ternate, mulai dari persoalan sampah, pengelolaan pasar higienis dan pasar tradisional, barito hingga aktivitas galian C.
Sekda Kota Ternate, Rizal Marsaoly, dalam kesempatan itu memulai dengan memperkenalkan perjalanan kariernya sebelum terjun ke dunia birokrasi. Ia mengaku sebelumnya bekerja di sektor perbankan sebelum akhirnya memilih berkiprah di pemerintahan.
Rizal juga menceritakan pengalamannya berada dalam tiga masa kepemimpinan di Kota Ternate, mulai dari era Samsir Andili, kemudian Hi. Bur, hingga saat ini di bawah kepemimpinan Wali Kota Ternate Tauhid Soleman.
“Saya masuk birokrasi karena melihat ada sesuatu yang membutuhkan kerja ekstra. Saya sangat tertarik dengan kepemimpinan Samsir Andili yang santai dan dekat dengan aparatur sipil negara,” ujar Rizal.
Ia menjelaskan, setiap periode kepemimpinan di Kota Ternate memiliki visi pembangunan yang saling berkesinambungan.
Pada masa Samsir Andili, pembangunan kota diusung melalui konsep Ternate Madani. Program tersebut kemudian dilanjutkan pada masa Hi. Bur dengan konsep Bahari Berkesan, hingga saat ini diteruskan melalui visi Ternate Andalan pada kepemimpinan Tauhid Soleman.
Menurut Rizal, seluruh konsep pembangunan tersebut merupakan satu rangkaian tahapan menuju kesempurnaan pembangunan kota.
“Sehingga kita tidak bisa melihat bahwa satu periode berhasil sementara yang lain tidak. Karena capaian pembangunan selalu dilanjutkan dari periode sebelumnya ke periode berikutnya,” katanya.
Rizal juga mengakui, dalam perjalanan pemerintahan saat ini masih terdapat sejumlah sektor pelayanan yang membutuhkan pembenahan.
Ia mengapresiasi langkah mahasiswa melalui diskusi dan aksi yang dilakukan Samurai Malut dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Saya melihat apa yang dilakukan teman-teman Samurai adalah bentuk pengingat bagi pemerintah untuk terus melakukan perbaikan. Semangat bersinergi seperti ini sangat penting,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rizal juga menyoroti persoalan pengelolaan dan penataan pasar di Kota Ternate yang membutuhkan aksesibilitas yang lebih baik.
Menurutnya, pasar tidak bisa digabungkan dengan terminal karena berpotensi menimbulkan kemacetan dan kepadatan aktivitas.
Ia bahkan mengaku telah menyampaikan kepada Wali Kota Ternate terkait rencana pembangunan flyover (jalan layang) dari kawasan Bandara Babullah hingga melewati area pasar.
“Tujuannya untuk mengurai kemacetan dan meningkatkan efisiensi lalu lintas. Jadi pengendara yang menuju pasar menggunakan akses yang sudah ditentukan, sementara pengendara lain dapat menggunakan flyover,” jelasnya.
Selain itu, penataan pedagang juga terus dilakukan oleh pemerintah daerah. Pedagang pisang, misalnya, didorong untuk masuk ke dalam area pasar, begitu pula pedagang lainnya.
Rizal menegaskan, dalam merespons berbagai persoalan kota, peran pemerintah harus dimulai dari level paling bawah, mulai dari lurah hingga camat.
“Lurah harus menjadi garda terdepan dalam merespons persoalan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyinggung persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi problem lama di Kota Ternate. Menurutnya, penanganan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah Kota Ternate, kata dia, saat ini sedang menginisiasi penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang tata kelola sampah sebagai langkah memperbaiki sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut.
Di akhir diskusi, Rizal mengajak mahasiswa Samurai Malut untuk berkolaborasi melakukan aksi bersih-bersih sampah setelah Idulfitri.
“Perlu kita bergandengan tangan untuk mewujudkan Ternate yang bersih, tertata, kreatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.








Komentar