BNPB Prioritaskan Penanganan Warga Terdampak di Batang Dua, Ternate
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprioritaskan penanganan warga terdampak gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Maluku Utara, pada Kamis, 2 April 2026.
Langkah cepat dilakukan dengan mengirim bantuan logistik menggunakan pesawat kargo pada Sabtu, 4 April 2026 untuk memenuhi kebutuhan warga di Kecamatan Batang Dua, Ternate.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah 1 BNPB, Agus Riyanto, mengatakan bantuan tersebut akan diturunkan di Kota Ternate sebelum didistribusikan ke wilayah terdampak.
“Bantuan akan dilanjutkan ke Batang Dua pada Minggu menggunakan kapal Basarnas, sesuai hasil koordinasi dengan Kepala Basarnas,” ujarnya.
Agus mengungkapkan, dirinya baru saja kembali dari Pulau Mayau, Kecamatan Batang Dua, guna memastikan langsung kondisi warga pascagempa.
Dari hasil pemantauan, gempa susulan masih terjadi, bahkan mencapai magnitudo 5,8. Kondisi tersebut membuat sebagian warga masih memilih bertahan di pengungsian.
“Sampai kemarin masih terjadi gempa susulan. Besok kami akan menggelar rapat koordinasi bersama kabupaten/kota terdampak untuk merumuskan langkah penanganan selanjutnya,” katanya.
Data sementara BNPB mencatat, jumlah pengungsi di wilayah terdampak mencapai lebih dari 300 jiwa. Sementara jumlah rumah yang rusak dilaporkan lebih dari 200 unit.
Tidak hanya warga yang rumahnya rusak, sebagian masyarakat juga memilih mengungsi meski tempat tinggal mereka masih layak huni akibat trauma terhadap gempa susulan.
“Data ini masih dinamis karena kondisi di lapangan terus berkembang,” ujarnya.
Agus menambahkan, dampak paling signifikan terjadi di Kecamatan Batang Dua, khususnya Pulau Mayau dan Tifure. Selain itu, sejumlah daerah lain seperti Halmahera Barat, Halmahera Tengah, dan Kota Tidore Kepulauan juga terdampak.
Namun, untuk wilayah di luar Kota Ternate, sebagian besar warga dilaporkan telah kembali ke rumah masing-masing.
“Pengungsi dalam jumlah besar masih berada di Kota Ternate, jumlahnya di atas 200 jiwa,” ungkapnya.
Pasca gempa, dua daerah di Maluku Utara telah menetapkan status tanggap darurat, yakni Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan. Sementara daerah lain akan dievaluasi penanganannya setelah rapat koordinasi yang dijadwalkan pada Minggu, 5 April 026.
Menurut Agus, penetapan status tanggap darurat penting untuk mempercepat penanganan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
“Ini berkaitan dengan memastikan pengungsi mendapatkan hak dan kebutuhan dasar,” tegasnya.
BNPB juga memastikan distribusi logistik menjadi prioritas utama, mengingat stok di lokasi terdampak saat ini diperkirakan hanya mampu bertahan hingga tiga hari ke depan.
“Kami sudah koordinasikan seluruh unsur di Ternate untuk menghimpun bantuan. Besok logistik akan langsung didistribusikan ke Pulau Mayau agar masyarakat tidak kekurangan kebutuhan,” pungkasnya.









Komentar