Ketika Wao Muncul, Warga Morotai Pun Tumpah ke Pesisir
Kemunculan cacing laut musiman Palola viridis kembali menjadi momen yang paling dinanti warga pesisir Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara.
Hewan laut yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “wao” itu muncul serentak di sepanjang pesisir Desa Wayabula dan Bobula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kamis, 7 Mei 2026.
Sejak subuh, warga mulai berdatangan ke bibir pantai berbatu karang untuk berburu wao yang hanya muncul setahun sekali. Dengan membawa serokan, tapisan, ember hingga wadah seadanya, masyarakat tampak antusias menyambut tradisi tahunan tersebut.
Pantauan halmaherapost.com, suasana pesisir Desa Bobula sejak pukul 05.30 WIT dipenuhi aktivitas warga. Anak-anak, ibu rumah tangga hingga orang tua larut dalam perburuan wao di tengah deburan ombak pagi.
Sebagian warga berdiri di sela-sela batu karang yang mulai mengering, sementara lainnya menyisir laut dangkal setinggi lutut hingga dada demi mendapatkan hasil tangkapan lebih banyak.
“Di sini banyak, ayo cepat sebelum ombak datang!” teriak Irma, warga Wayabula, sambil mengangkat serokannya yang dipenuhi wao.
Bagi masyarakat Morotai, wao bukan sekadar cacing laut musiman. Kehadirannya telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang selalu menghadirkan kebersamaan warga pesisir setiap tahunnya.
Usai ditangkap, wao biasanya dimasak atau dibakar menggunakan daun pandan hutan yang dikenal warga dengan sebutan “buro-buro”. Aroma khas daun tersebut menjadi pelengkap santapan sederhana bersama pisang rebus, kasbi maupun sagu.
“Wao ini hanya muncul satu tahun sekali. Ada kenikmatan tersendiri saat warga berkumpul membawa siu-siu untuk mencari wao. Apalagi kalau dimasak dengan buro-buro lalu dimakan bersama pisang, kasbi atau sagu,” ujar Ritno, salah satu warga yang ikut berburu bersama rombongan lainnya.
Selain menjadi tradisi tahunan, berburu wao juga menjadi momen mempererat hubungan sosial antarwarga. Di pesisir, mereka saling membantu dan berbagi hasil tangkapan sambil menikmati suasana pagi.
Namun, warga mengaku harus bergerak cepat saat menangkap wao. Sebab, ketika matahari mulai terbit, hewan laut tersebut perlahan hancur dan larut terbawa arus laut.
“Torang harus cepat. Kalau matahari sudah muncul, wao akan meleleh ikut air laut,” tutup Ritno.








Komentar