Pemerintah

Gubernur Sherly Cek Inovasi Pengerasan Tanah PUPR, Siapkan untuk Jalan Tani 2027

Pose bersama Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos saat mengecek inovasi pengerasan tanah di PUPR. Foto: Halmaherapost.com

Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, mengecek uji coba inovasi pengerasan tanah jalan menggunakan campuran semen dan chemical di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Maluku Utara, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Inovasi tersebut disiapkan sebagai alternatif pembangunan jalan tani pada 2027. Metode ini memungkinkan pengerasan jalan menggunakan tanah yang dicampur semen dan bahan kimia khusus tanpa material pasir, batu, dan kerikil (sirtu).

Dalam kunjungan itu, Sherly diterima Kepala Dinas PUPR Maluku Utara, Risman Iriyanto Djafar, bersama jajaran. Mereka kemudian melihat langsung hasil uji coba pengerasan tanah di bagian belakang kantor Dinas PUPR.

Sherly turut menguji kekuatan permukaan tanah yang telah mengeras dengan memukulnya menggunakan sekop. Ia juga meminta staf PUPR melakukan hal serupa sebelum berdiskusi dengan Risman mengenai proses pengerjaan dan rencana penerapan inovasi tersebut.

“Jadi ini inovasi jalan tani versi Dinas PUPR. Tidak pakai sirtu, cukup tanah, tetapi harus dipastikan tidak ada kotoran, plastik, maupun batu. Murni tanah,” kata Sherly.

Menurut Sherly, pengerjaan dimulai dengan menyiapkan tanah yang bersih, kemudian memadatkannya sebelum diberi campuran semen dan chemical.

Ia menyebut metode tersebut diklaim mampu bertahan hingga 10 tahun. Karena itu, Sherly berencana menerapkannya pada pembangunan jalan tani pada 2027 sebagai alternatif penggunaan sirtu.

“Jalan tani 2027 kita sudah pakai inovasi ini. Tidak pakai sirtu lagi. Setelah dibuka menggunakan dozer, langsung tanah, semen, dan campuran chemical,” ujarnya.

Selain menawarkan metode pengerjaan berbeda, inovasi ini juga diharapkan dapat menekan biaya pembangunan. Sherly membandingkan kebutuhan anggaran pembangunan jalan tani menggunakan sirtu yang mencapai sekitar Rp250 juta dengan metode campuran tanah, semen, dan chemical yang diperkirakan sebesar Rp200 juta.

Dengan perbandingan tersebut, terdapat potensi penghematan sekitar Rp50 juta untuk setiap pekerjaan jalan.

Sherly mengusulkan agar selisih anggaran itu dapat dimanfaatkan untuk membangun drainase di sisi kiri dan kanan jalan tani. Menurut dia, penghematan biaya konstruksi dapat dialihkan untuk melengkapi infrastruktur pendukung.

“Kalau bisa, Rp50 juta itu buat saja drainase di kiri dan kanan jalan tani,” katanya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga