Pemerintah

Wali Kota Tauhid Dorong Sinergi Rumah, Sekolah, dan Masjid dalam Pendidikan

Wali Kota Ternate, H. M. Tauhid Soleman saat menjadi narasumber. Foto: Humas Pemkot Ternate

Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman mendorong penguatan sinergi antara rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid dalam membangun ekosistem pendidikan yang utuh berbasis kearifan lokal.

Hal tersebut disampaikan Tauhid saat menjadi pemateri dalam Seminar Peringatan Hari Santri Kota Ternate di aula Kantor Wali Kota Ternate, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Menurut Tauhid, pendidikan yang kuat tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam membentuk karakter anak.

Ia menjelaskan, rumah menjadi fondasi utama penanaman kasih sayang, keteladanan, adab, disiplin, dan kebiasaan baik. Sementara sekolah atau pesantren berperan mengembangkan ilmu pengetahuan, nalar kritis, keterampilan, akhlak mulia, kemandirian, serta tanggung jawab.

Adapun masjid dan masyarakat menjadi ruang penguatan spiritual, persaudaraan, kepedulian sosial, literasi agama, dan pelayanan umat.

Tauhid menyebutkan, ada empat prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengintegrasikan ketiga lingkungan pendidikan tersebut. Pertama, menyampaikan pesan yang sama melalui keteladanan. Kedua, mengutamakan kolaborasi daripada saling menyalahkan. Ketiga, menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi anak. Keempat, menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan budaya.

Ia juga mengingatkan bahwa kearifan lokal tidak cukup ditampilkan sebagai simbol atau melalui pakaian adat, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Di Kota Ternate dan Maluku Utara, nilai adat se atorang, penghormatan kepada orang tua dan guru, musyawarah, gotong royong, identitas maritim, serta sejarah rempah perlu diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran generasi muda.

Penerapan nilai-nilai tersebut dapat dilakukan melalui pengalaman konkret, pelibatan tokoh adat, ulama, dan sejarawan, serta pemanfaatan sumber pengetahuan lokal yang ada di tengah masyarakat.

Di tengah perkembangan era digital, Tauhid menilai santri dan generasi muda perlu memiliki kedalaman ilmu dan akhlak sekaligus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Berbagai tantangan, seperti distraksi digital, penyebaran hoaks, perundungan, dan kesenjangan antargenerasi, perlu dihadapi melalui penguatan budaya tabayun, literasi digital, serta penyediaan mekanisme perlindungan anak yang aman.

Agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana seremonial, Tauhid mendorong penyusunan rencana aksi selama 90 hari dengan melibatkan pemerintah, orang tua, pendidik, dan pengurus masjid.

Rencana tersebut dimulai dengan pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal pada 15 hari pertama. Tahapan selanjutnya mencakup pelaksanaan program rutin, pengembangan proyek berbasis kearifan lokal, evaluasi berkala, hingga memastikan keberlanjutan program di setiap kelurahan dan lingkungan pendidikan.

Melalui sinergi rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak, kepedulian sosial, serta identitas budaya yang kuat.

“Rumah menanamkan nilai, sekolah menumbuhkan ilmu, masjid menghidupkan iman dan kepedulian. Ketika ketiganya bersinergi dengan kearifan lokal, kita sedang menyiapkan generasi yang berakar kuat dan mampu melangkah jauh,” pungkasnya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga