“Belajar Komitmen dan Menjaga Pertemanan dari Sosok Opo” : Anak Muda yang Humanis

Faisal Opo Anwar ketika berada di Austria || Foto: Dokumentasi Pribadi

Oleh : Hasan Bahta


Dalam dinamika sosial dan politik yang sering kali cair, menemukan sosok yang teguh memegang janji adalah sebuah kelangkaan. Namun, bagi masyarakat Maluku Utara, nama Faisal Anwar atau yang lebih akrab disapa  "Opo" menjadi anomali yang menyegarkan. Pemuda kelahiran Tidore ini bukan sekadar aktivis atau penggerak massa; ia adalah representasi dari nilai kesetiaan dan kemanusiaan yang nyata.

Melalui perjalanannya, Opo memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda tentang bagaimana merawat kepercayaan dan menjaga jejaring pertemanan di tengah badai perubahan. Komitmen Opo tidak dimulai dari ruang hampa. Ia adalah salah satu orang kepercayaan mendiang Benny Laos. Bagi banyak orang, ketika seorang mentor atau pemimpin berpulang, loyalitas sering kali luntur seiring berjalannya waktu. Namun tidak bagi Opo.

Bagi Opo, amanah bukan sekadar kontrak kerja atau posisi jabatan, melainkan sebuah ikatan moral. Hingga saat ini, ia tetap berdiri tegak mengawal visi pembangunan Maluku Utara yang kini dilanjutkan oleh  Sherly Tjoanda (Sherly Laos). Sikap ini menunjukkan bahwa komitmen Opo tidak bersifat transaksional, melainkan berdasarkan prinsip kemanusiaan (humanis) yang mendalam.

Salah satu kekuatan utama Faisal Anwar adalah kemampuannya dalam merawat jejaring pertemanan. Di era digital di mana hubungan sering kali terasa dangkal, Opo justru memilih jalan yang lebih personal. Ia mampu masuk ke berbagai lapisan masyarakat, dari elite politik hingga masyarakat akar rumput di pelosok Maluku Utara.

Merawat pertemanan baginya bukan sekadar berkirim pesan, tapi hadir saat dibutuhkan. Inilah yang membuatnya memiliki "circle" yang solid dan setia. Orang-orang percaya pada Opo karena ia adalah sosok yang satu kata dengan perbuatan. Ketika ia menyatakan dukungan, maka seluruh energinya akan dicurahkan ke sana.

Sebagai anak muda yang terlibat langsung dalam pemenangan pasangan calon Gubernur Sherly-Sarbin, tanggung jawab Opo bukan sekadar memenangkan kontestasi. Ia memikul beban moral untuk memastikan bahwa semangat pembangunan yang pernah dicita-citakan tetap berada pada jalurnya.

Opo menyadari bahwa Maluku Utara membutuhkan keberlanjutan. Kepemimpinan Sherly Laos dipandangnya sebagai estafet harapan. Dengan kecerdasan sosial yang dimilikinya, Opo berperan sebagai jembatan komunikasi, menyatukan semangat anak-anak muda Maluku Utara untuk ikut andil dalam mengawal pemerintahan.

Ada tiga hal utama yang bisa kita petik dari sosok Opo: Pertama, Keteguhan Hati (Resilience):  meskipun situasi sulit atau penuh tekanan, Opo tetap teguh pada pendiriannya. Ia membuktikan bahwa anak muda tidak boleh mudah "goyang" oleh kepentingan sesaat. Kedua, nilai kemanusiaan di atas segalanya:  politik bagi Opo adalah alat untuk membantu orang lain. Pendekatannya yang humanis membuat perjuangan politik terasa lebih hangat dan diterima banyak pihak. Ketiga, loyalitas adalah Investasi Terbesar:  karir dan reputasi Opo yang cemerlang saat ini adalah buah dari kesetiaannya menjaga amanah selama bertahun-tahun.

Faisal Anwar "Opo" adalah bukti bahwa untuk menjadi besar, kita tidak harus menjadi keras atau licik. Dengan menjadi humanis, menjaga komitmen, dan tulus dalam berteman, seorang anak muda dari Tidore mampu memberi dampak besar bagi kemajuan daerahnya. Komitmen Opo ini, selaras dengan apa yang pernah disampaikan oleh mantan Presiden RI yakni Mohammad Hatta,  bahwa "Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dibantu dengan pengalaman. Namun tidak jujur (tidak berkomitmen) itu sulit diperbaiki.

Mari kita jadikan teladan: bahwa dalam hidup, bukan seberapa banyak orang yang kita kenal, tapi seberapa kuat kita menjaga kepercayaan orang-orang yang telah menitipkan harapan kepada kita. Tetaplah mengawal, tetaplah kuat, Opo!

Penulis: Red

Baca Juga