Cendekia

Tragedi Dukono di Mata Dunia: Ulasan atas Artikel M. Guntur Cobobi di The Straits Times

Istimewa

SEBUAH opini karya M. Guntur Cobobi, peneliti dan akademisi di Centre for Melanesian Studies Universitas Khairun, Maluku Utara, dipublikasikan secara eksklusif The Straits Times, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Asia Tenggara. Tulisan berjudul "The Dukono Tragedy Is About Gaps in Safety, Not Reckless Hikers" ini menjadi suara langka dari seseorang yang tumbuh besar di kaki Gunung Dukono, dan menawarkan perspektif yang tidak ditemukan dalam sebagian besar liputan internasional tentang peristiwa 8 Mei 2026.

Tragedi itu menewaskan tiga orang dari dua puluh pendaki yang berada di puncakDukono pagi hari ketika gunung berapi di Galela, Halmahera Utara itu meletus. Dua korban adalah warga negara Singapura, satu orang lainnya warga Indonesia. Dalam beberapa hari setelahnya, kolom komentar media internasional, termasuk media berbasis Singapura, dipenuhi oleh hujatan: para pendaki disebut nekad, tidak bertanggung jawab, bahkan dungu. Narasi itulah yang ingin ditantang oleh staf pengajar di Program Studi Antropologi ini.

Ia membuka tulisannya dengan mendeskripsikan bagaimana warga yang hidup di sekitar Dukono selama ini memandang gunung ini. Bagi masyarakat setempat, erupsi harian Dukono adalah hal yang biasa, bukan ancaman. Pengetahuan tentang bahaya gunung ini tidak pernah dikomunikasikan kepada mereka dalam bentuk yang bisa dipahami dan ditindaklanjuti. Padahal Dukono telah berada dalam status erupsi terus-menerus sejak 1933, dan sejak Desember 2024, otoritas vulkanologi Indonesia telah mengeluarkan peringatan agar tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari kawah. Tidak ada mekanisme yang menyalurkan informasi itu secara masif kepada siapapun yang akan mendaki.

Ia juga mengangkat kesaksian pemandu gunung lokal Alex Djangu, yang berada di Dukono pada hari yang sama bersama wisatawan dari Jerman. Djangu sempat menerbangkan drone dan mendapati kawah sudah penuh material vulkanik, kondisi yang tidak normal. Namun tidak ada pos keamanan, tidak ada petugas, tidak ada sistem peringatan yang berfungsi untuk menghentikan rombongan manapun yang terus mendaki. Absennya sistem inilah yang menjadi inti argumen Guntur: kewaspadaan individual, betapapun tingginya, tidak bisa menggantikan infrastruktur keselamatan yang seharusnya ada.

Sebagian dari tulisan ini juga merespons narasi yang menyebut para pendaki datang semata demi kepentingan konten media sosial. Guntur menolak penyederhanaan itu. Ia menulis tentang Reza Selang, dikenal sebagai Anak Esa, konten kreator asal Maluku Utara yang memperkenalkan keindahan Dukono kepada publik yang lebih luas melalui rekaman drone, bukan demi uang, melainkan karena kecintaannya pada tanah kelahirannya. Reza adalah salah satu pemandu dalam rombongan naas tersebut. Menurutnya, para wisatawan itu datang bukan untuk mati, melainkan untuk mengisi hidup.

Bagian paling kuat dari tulisan ini ada di penghujungnya. Guntur mengarahkan persoalan ke akar yang lebih dalam: kesenjangan struktural antara destinasi wisata alam Indonesia yang sudah mapan, dengan sistem pengelolaan yang relatif terstandar, dan destinasi yang popularitasnya tumbuh organik melalui media sosial tanpa diikuti oleh pertumbuhan infrastruktur keselamatan apapun. Di tempat-tempat seperti Dukono, tidak ada pos pemeriksaan, tidak ada penjaga, dan tidak ada mekanisme penyampaian informasi peringatan kepada siapapun yang akan mendaki, apalagi dalam bahasa yang bisa dipahami wisatawan asing.

Tulisan ini relevan bagi pembaca HalmaheraPost bukan hanya karena peristiwa yang menjadi konteksnya terjadi di daerah kita sendiri, tetapi juga karena suara yang disuarakan adalah suara yang selama ini absen dari percakapan internasional tentang Dukono: suara warga lokal yang memahami gunung ini bukan dari laporan vulkanologi, melainkan dari pengalaman hidup yang diwariskan lintas generasi.

Artikel lengkap dapat dibaca di versi cetak The Straits Times terbitan 13 Mei 2026 atau dapat diakses melalui tautan berikut:
https://www.straitstimes.com/opinion/the-dukono-tragedy-is-about-gaps-in-safety-not-reckless-hikers

=====================================

Tentang Penulis Opini

M. Guntur Cobobi adalah warga Halmahera Utara dan peneliti dan akademisi di Centre for Melanesian Studies, Universitas Khairun, Maluku Utara.

Penulis:

Baca Juga