Pendidikan
Dikbud Maluku Utara Apresiasi MPLS 2026, Minta Sekolah Tetap Ramah Anak
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara mengapresiasi pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung di seluruh SMA, SMK, dan SLB.
Meski dinilai berjalan tertib dan humanis, sekolah diminta tetap mempertahankan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak setelah MPLS berakhir.
MPLS bagi peserta didik baru digelar serentak pada 7–11 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi siswa untuk mengenal lingkungan sekolah, budaya belajar, warga sekolah, sekaligus menumbuhkan karakter, disiplin, dan semangat belajar sejak hari pertama.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini berjalan sesuai harapan. Penilaian tersebut didasarkan pada laporan kepala sekolah, Cabang Dinas Pendidikan di kabupaten/kota, serta hasil pemantauan yang dilakukan selama kegiatan berlangsung.
"Berdasarkan laporan yang kami terima dan hasil pemantauan di lapangan, MPLS 2026 berjalan dengan baik. Kegiatannya tertib, menyenangkan, ramah anak, dan benar-benar memanusiakan peserta didik. Ini menjadi awal yang baik untuk membangun budaya belajar yang positif di sekolah," kata Abubakar, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurutnya, seluruh rangkaian MPLS dilaksanakan mengacu pada petunjuk teknis yang ditetapkan Kementerian Pendidikan. Karena itu, pihaknya memberikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, panitia, serta seluruh warga sekolah yang mampu menyelenggarakan MPLS secara edukatif, humanis, dan bebas dari praktik perundungan maupun kekerasan.
Abubakar menyebut sejumlah sekolah menghadirkan inovasi selama pelaksanaan MPLS. Di SMA Negeri 1 Halmahera Utara, Tobelo, misalnya, peserta didik baru menandatangani spanduk komitmen mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, serta bebas dari perundungan dan kekerasan.
Sementara itu, SMA Negeri 1 Ternate menerapkan Experience Counseling Psychology (ECP) untuk mengenali kondisi psikologis, karakter, minat, dan kebutuhan peserta didik baru sejak awal memasuki lingkungan sekolah.
Selain dua inovasi tersebut, sejumlah sekolah juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis, memperkenalkan layanan bimbingan dan konseling, mengadakan kegiatan literasi, penguatan karakter, permainan edukatif, hingga aktivitas yang mendorong interaksi dan kolaborasi antarsiswa.
Menurut Abubakar, berbagai inovasi itu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus membantu peserta didik beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan sekolah.
"Sekolah tidak hanya mengenalkan aturan, tetapi juga membangun rasa percaya diri, persahabatan, dan semangat berprestasi. Suasana positif seperti ini penting agar peserta didik merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar sejak hari pertama," ujarnya.
Ia berharap semangat positif yang dibangun selama MPLS tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi menjadi budaya yang terus diterapkan di setiap satuan pendidikan.
"Yang terpenting adalah bagaimana sekolah terus menjaga lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah anak. Dengan begitu, peserta didik dapat berkembang secara optimal, memiliki karakter yang kuat, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan di masa depan," pungkasnya.








Komentar