Wisata

Meti Cottage, Mimpi yang Tumbuh dari Sebuah Pulau Kecil di Halmahera

Pemilik Meti Cottage. Foto: Halmaherapost.com

Perjalanan menuju Pulau Meti bukan sekadar melintasi laut dan daratan. Di balik hamparan laut biru di utara Halmahera, tersimpan cerita tentang sebuah pulau kecil yang perlahan tumbuh menjadi tujuan wisata, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan manfaat dari perkembangan pariwisata.

Cerita itu dirasakan rombongan media partner Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara termasuk Halmaherapost.com dalam kegiatan Capacity Building Media Partner di Meti Cottage, Pulau Meti, Kabupaten Halmahera Utara selama 2 hari dimulai 29-30 Juli 2026.

Suasana Meti Cottage. Foto: Halmaherapost.com

Selasa, 28 Juli 2026 pagi, satu per satu peserta mulai berkumpul di Pelabuhan Semut, Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Ternate Selatan. Sejak pukul 08.00 WIT, suasana pelabuhan mulai ramai dengan persiapan perjalanan menuju pulau kecil yang berada di wilayah Kecamatan Tobelo Timur tersebut.

Sekitar pukul 09.30 WIT, rombongan bertolak menggunakan speedboat carter meninggalkan Ternate. Perjalanan laut menuju Sofifi terasa menyenangkan. Ombak yang relatif tenang, udara laut yang segar, serta pemandangan gugusan pulau kecil di sepanjang perjalanan menjadi pengalaman tersendiri.

Warung Meti Cottage. Foto: Halmaherapost.com

Setelah tiba di Pelabuhan Sofifi, perjalanan dilanjutkan menggunakan kendaraan darat menuju Desa Mawea, Kecamatan Tobelo Timur, Kabupaten Halmahera Utara.

Jalur darat yang ditempuh menghadirkan pemandangan khas Halmahera. Hutan hijau, perkampungan warga, hingga bentangan pesisir menjadi teman perjalanan sebelum rombongan kembali melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju Pulau Meti.

Sekitar pukul 14.30 WIT, perahu mulai bergerak meninggalkan pesisir Desa Mawea. Tidak lama kemudian, Pulau Meti mulai terlihat dari kejauhan.

Pintu masuk Meti Cottage. Foto: Halmaherapost.com

Deretan pohon kelapa yang berdiri di sepanjang garis pantai, air laut berwarna biru kehijauan, serta suasana pulau yang masih alami menjadi pemandangan pertama yang menyambut kedatangan rombongan.

Saat kaki menginjak Pulau Meti, suasana tenang langsung terasa. Tidak ada suara kendaraan yang bising. Hanya deburan ombak kecil, hembusan angin laut, dan suara alam yang menemani setiap langkah.

Di tengah suasana itu, berdiri Meti Cottage, sebuah kawasan penginapan yang mengusung konsep menyatu dengan alam.

Bangunan cottage didominasi material kayu dan bambu. Setiap sudutnya dirancang agar tetap selaras dengan lingkungan sekitar. Pepohonan dibiarkan tumbuh, sementara kawasan ditata sederhana namun tetap nyaman bagi pengunjung.

Menikmati Pulau Meti tidak hanya dilakukan dengan melihat keindahan dari kejauhan. Laut menjadi bagian penting dari pengalaman wisata di pulau ini.

Pengunjung dapat berenang bebas di perairan yang jernih dan tenang, merasakan langsung kesegaran air laut, serta menikmati suasana alam yang masih terjaga.

Bagi wisatawan, berenang di laut Meti menjadi pengalaman berbeda. Air yang bening membuat pengunjung dapat melihat kehidupan bawah laut di sekitar pesisir. Suasana yang jauh dari keramaian membuat aktivitas sederhana seperti berenang terasa lebih istimewa.

Cottage Meti. Foto: Halmaherapost.com

Selain berenang, wisatawan juga dapat menikmati hamparan pantai di sekitar kawasan cottage, atau sekadar duduk menikmati matahari terbenam dengan latar laut Halmahera.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut minuman selamat datang berupa es jeruk yang disiapkan para pekerja Meti Cottage. Setelah menikmati makan siang, peserta mengikuti sesi penyambutan sekaligus mendengarkan pesan dari pemilik Meti Cottage.

Adi juga bercerita perjalanan panjang di balik berdirinya Meti Cottage.

Berawal dari Percakapan di Bandara

Tak banyak yang mengetahui bahwa Meti Cottage berawal dari sebuah percakapan sederhana di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta pada 23 Desember 2016.

Saat itu, pemilik Meti Cottage, Adi, baru tiba dari Jerman dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Manado, Sulawesi Utara. Di ruang tunggu, ia mendengar beberapa pegawai Bank Indonesia Perwakilan Ambon berbincang dengan warga Maluku Utara mengenai keindahan Tobelo.

Adi hanya mendengarkan. Namun, cerita tentang keindahan Maluku Utara membuat rasa penasarannya tumbuh.

"Awalnya saya hanya mendengar mereka bercerita tentang indahnya Tobelo. Saya tidak ikut dalam percakapan, tetapi dari situ saya ingin datang melihat sendiri," kenangnya.

Sebelum memilih Pulau Meti, Adi sempat mengembangkan proyek pendidikan di Misool, Raja Ampat. Namun, persoalan konflik lahan membuat program tersebut harus dihentikan.

Ia kemudian mencari lokasi baru yang sesuai dengan konsep yang ingin dibangunnya.

Bukan hanya tempat yang indah, tetapi lokasi yang memiliki nilai sosial dan dapat memberi dampak bagi masyarakat.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada Pulau Meti

Menurut Adi, Pulau Meti memiliki beberapa alasan kuat untuk dikembangkan. Selain keindahan alam, pulau tersebut memiliki masyarakat yang membutuhkan dukungan, infrastruktur yang belum maksimal, serta nilai sejarah yang menjadi bagian dari kekuatannya.

"Saya mencari tempat yang bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kalau membangun di daerah yang sudah maju, saya hanya mengulang apa yang sudah ada. Tetapi kalau di Indonesia Timur, tantangannya lebih besar dan manfaatnya juga lebih besar," ujarnya.

Pada 2017, proses perizinan Meti Cottage mulai dilakukan. Setelah semuanya selesai, Adi mengambil keputusan besar meninggalkan pekerjaannya di Jerman dan menetap di Indonesia.

Seluruh pembangunan Meti Cottage dilakukan menggunakan dana pribadi.

Namun, sejak awal, tujuan utamanya bukan sekadar membangun bisnis penginapan.

"Meti Cottage ini lebih kepada menguji diri saya sendiri, apakah saya mampu membangun sesuatu yang bermanfaat. Bukan hanya soal uang," katanya.

Tumbuh Bersama Masyarakat

Komitmen memberdayakan masyarakat menjadi bagian penting dalam perjalanan Meti Cottage.

Sekitar 80 persen pekerja di kawasan tersebut berasal dari Kampung Meti. Dari sekitar 12 hingga 13 pekerja, mayoritas merupakan warga lokal.

"Saya ingin masyarakat di sini ikut tumbuh bersama. Karena itu sejak awal pekerjanya banyak dari Meti," ujarnya.

Nama Meti Cottage sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Bagi Adi, nama tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap kampung tempat usaha itu berdiri.

Dalam pengembangannya, Meti Cottage lebih banyak menyasar wisatawan domestik. Konsep bangunan dan pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan Indonesia.

Pada Januari hingga Maret, kawasan ini biasanya ramai dikunjungi peselancar yang datang menggunakan kapal pinisi untuk menikmati ombak di sekitar Pulau Meti.

Sementara mulai Mei hingga November, pengunjung lebih banyak berasal dari keluarga, komunitas, maupun instansi pemerintah.

Menjaga Alam Pulau Meti

Di balik perkembangan pariwisata, Adi tetap memberi perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan.

Botol dan kaleng bekas dikumpulkan untuk dikirim ke Tobelo. Namun, sampah plastik masih menjadi tantangan karena belum tersedia fasilitas pengelolaan sampah yang memadai di Pulau Meti, maupun pelabuhan Mawea.

Ia berharap ke depan ada tempat penampungan sampah di kawasan pelabuhan.

"Pelabuhan adalah wajah pertama Pulau Meti. Kalau bersih, wisatawan juga akan mendapatkan kesan yang baik," katanya.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap ikan-ikan yang menjadi daya tarik wisata di depan kawasan cottage.

Setiap hari, ia memberi makan ikan yang bergerombol di sekitar pantai. Pemandangan itu menjadi salah satu hal yang paling disukai pengunjung.

Namun, ia mengaku sedih karena masih ada ikan yang ditangkap menggunakan jaring.

"Yang membuat tamu senang adalah melihat ikan-ikan itu tetap ada. Sayang kalau terus ditangkap," tuturnya.

Mimpi yang Belum Selesai

Seluruh desain Meti Cottage merupakan hasil rancangan Adi sendiri. Inspirasi bangunan diperoleh dari berbagai tempat yang pernah ia kunjungi selama bekerja di luar negeri.

Ia lebih memilih memperhatikan detail kecil dibandingkan hanya mengejar tampilan besar.

Baginya, sebuah tempat wisata bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang pengalaman yang dirasakan setiap orang yang datang.

Ke depan, Adi masih menyimpan banyak harapan untuk Pulau Meti. Salah satunya menghadirkan program English Camp serta pelatihan bahasa asing bagi anak-anak dan masyarakat setempat.

Sebab baginya, pariwisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi membuka peluang baru bagi masyarakat.

Di sebuah pulau kecil di Halmahera itu, Meti Cottage tumbuh sebagai cerita tentang alam, masyarakat, dan sebuah mimpi yang perlahan menjadi nyata.

"Harapan saya tetap sama. Kalau pariwisata berkembang, masyarakat Meti harus menjadi yang pertama menikmati manfaatnya," pungkasnya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga