Pendidikan
SIGARO ENCIK SE ENGKU, Disdik Ternate Perkuat Disiplin dan Budaya Kerja Guru
Dinas Pendidikan Kota Ternate terus mendorong transformasi digital untuk memperkuat tata kelola dan budaya kerja aparatur di lingkungan pendidikan. Salah satunya melalui inovasi SIGARO ENCIK SE ENGKU (Sistem Informasi Presensi Guru Berbasis Digital).
Inovasi yang dikembangkan Bidang Pembinaan Ketenagaan (GTK) tersebut telah berjalan sekitar delapan bulan, setelah sebelumnya memasuki tahap uji coba pada November.
SIGARO ENCIK SE ENGKU tidak hanya dirancang sebagai sistem pencatatan kehadiran guru secara digital. Lebih dari itu, inovasi ini diarahkan menjadi instrumen untuk membangun budaya kerja yang disiplin, bertanggung jawab, akuntabel, dan profesional.
Melalui sistem tersebut, kehadiran guru diharapkan tidak berhenti pada catatan digital. Guru didorong hadir tepat waktu, menjalankan tugas secara bertanggung jawab, memenuhi beban kerja, serta terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik.
Bukan Sekadar Presensi
Digitalisasi presensi menjadi salah satu langkah dalam membangun tata kelola pendidikan yang lebih efektif dan transparan.
Namun, nilai utama SIGARO ENCIK SE ENGKU terletak pada perubahan budaya kerja yang ingin dibangun.
Guru tidak hanya dituntut hadir secara fisik di sekolah. Lebih dari itu, guru diharapkan hadir dalam tugas, pembelajaran, keteladanan, hingga proses peningkatan mutu pendidikan.
Sebagai pendidik, guru memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter peserta didik. Sikap disiplin, integritas, tanggung jawab, adab, dan profesionalitas yang ditunjukkan guru menjadi bagian dari pembelajaran bagi anak-anak.
Karena itu, disiplin tidak semata-mata dimaknai sebagai kepatuhan terhadap jam masuk dan pulang sekolah. Disiplin juga mencakup kesungguhan menjalankan tugas, mengevaluasi pembelajaran, meningkatkan kompetensi, berbagi praktik baik, serta berkolaborasi menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.
Perkuat Budaya Kerja ASN
Pengembangan SIGARO ENCIK SE ENGKU juga diarahkan untuk memperkuat penerapan nilai dasar ASN BerAKHLAK, yakni Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Penguatan disiplin aparatur memiliki landasan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin PNS.
Di lingkungan Pemerintah Kota Ternate, penerapan kode etik ASN juga berlandaskan Peraturan Wali Kota Ternate Nomor 4 Tahun 2018 tentang Kode Etik Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kota Ternate.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, semangat, kerja sama, dan pelayanan prima menjadi bagian penting dalam membangun aparatur yang profesional.
Dalam konteks itu, SIGARO ENCIK SE ENGKU menjadi instrumen pendukung untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian guru.
Disiplin Harus Diikuti Budaya Belajar
Penguatan budaya kerja tidak akan lengkap tanpa budaya belajar. Dunia pendidikan terus berkembang, begitu pula kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Guru karena itu dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kompetensi.
Forum profesional seperti MKKK, KKKS, MGMP, dan KKG perlu terus dihidupkan sebagai ruang bagi guru untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, menyelesaikan persoalan pembelajaran, mengembangkan inovasi, dan saling menguatkan.
Semangat “Satu Hari Belajar Guru” juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan belajar secara berkelanjutan.
Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Dengan budaya belajar yang kuat, disiplin tidak lagi sekadar kepatuhan terhadap aturan. Disiplin berkembang menjadi kesadaran untuk terus memperbaiki diri dan memberikan layanan pendidikan yang semakin berkualitas.
Guru Jadi Teladan Anak
Implementasi SIGARO ENCIK SE ENGKU juga diharapkan mendukung penguatan karakter peserta didik melalui keteladanan guru.
Hal tersebut sejalan dengan semangat 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, terutama dalam membangun karakter, budi pekerti, adab, kedisiplinan, dan perilaku positif sejak dini.
Anak-anak tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru di dalam kelas. Mereka juga belajar dari sikap dan perilaku orang dewasa di lingkungan sekolah.
Ketika guru membangun kebiasaan disiplin, bertanggung jawab, terus belajar, dan mampu bekerja sama, nilai-nilai tersebut secara tidak langsung menjadi bagian dari pendidikan karakter peserta didik.
Ridwan Ali: Teknologi Hanya Alat
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate, Ridwan Ali, SE., ME., mengajak seluruh guru untuk terus meningkatkan disiplin, profesionalitas, kompetensi, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Menurutnya, setiap kehadiran guru tidak boleh sekadar tercatat dalam sistem, tetapi harus diwujudkan melalui pelaksanaan tugas, pembelajaran berkualitas, keteladanan, dan kontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan.
SIGARO ENCIK SE ENGKU pun tidak diposisikan sebagai akhir dari sebuah inovasi. Digitalisasi presensi justru menjadi langkah awal untuk membangun budaya kerja, budaya belajar, dan budaya kolaborasi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, teknologi hanya menjadi alat. Nilai terbesar dari sebuah inovasi terletak pada perubahan positif yang dihasilkan.
SIGARO ENCIK SE ENGKU diharapkan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Kota Ternate menuju tata kelola yang semakin disiplin, akuntabel, profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu.
Dari disiplin guru lahir keteladanan. Dari keteladanan tumbuh karakter. Dari karakter lahir generasi hebat.
Murid belajar, guru juga belajar. Bersama mewujudkan pendidikan Kota Ternate yang lebih bermutu menuju TERNATE ANDALAN.
Disiplin dalam Kehadiran, Belajar dalam Pengabdian, Berkolaborasi untuk Mutu Pendidikan.








Komentar