Gempa
Ratusan Bangunan Rusak dan Warga Mengungsi, Pemkot Ternate Fokus Tangani Batang Dua
Gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang wilayah Kota Ternate pada Kamis, 2 April 2026 menimbulkan dampak signifikan di Kecamatan Batang Dua.
Ratusan bangunan dilaporkan rusak, sementara ratusan warga masih mengungsi demi menghindari potensi gempa susulan.
Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim) telah melakukan pendataan langsung di lokasi terdampak untuk memastikan tingkat kerusakan.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan hasil verifikasi menunjukkan sebanyak 233 unit bangunan mengalami kerusakan, baik rumah warga maupun fasilitas umum.
“Data ini berdasarkan hasil verifikasi lapangan oleh Kepala Disperkim Kota Ternate, Tony S. Pontoh,” ujar Rizal, Sabtu, 4 April 2026.
Ia menjelaskan, kerusakan tersebar di sejumlah kelurahan di Batang Dua. Di Kelurahan Lelewi tercatat 87 bangunan rusak, terdiri dari 31 rumah rusak ringan, 29 rusak sedang, dan 23 rusak berat. Selain itu, terdapat satu unit kantor rusak ringan serta tiga gereja, masing-masing satu rusak ringan dan dua rusak berat.
Di Kelurahan Bido, sebanyak 36 bangunan terdampak, meliputi 23 rumah rusak ringan dan 13 rusak berat, serta dua gereja rusak berat.
Sementara di Kelurahan Perum Bersatu, terdapat 11 bangunan rusak, terdiri dari tiga rumah rusak ringan, empat rusak sedang, dan empat rusak berat.
Kelurahan Mayau menjadi wilayah dengan dampak cukup besar dengan total 90 bangunan rusak, yakni 43 rumah rusak ringan, 22 rusak sedang, dan 21 rusak berat. Selain itu, satu unit sekolah mengalami rusak ringan, satu gereja rusak sedang, dan dua gereja rusak berat.
Sedangkan di Kelurahan Tifure, tercatat sembilan bangunan rusak, terdiri dari enam rusak ringan dan tiga rusak sedang.
“Secara keseluruhan, kerusakan meliputi 104 rumah rusak ringan, 58 rusak sedang, dan 61 rusak berat. Selain itu, satu fasilitas kantor dan satu sekolah mengalami rusak ringan, serta delapan gereja dengan rincian satu rusak ringan, satu rusak sedang, dan enam rusak berat,” jelasnya.
Selain kerusakan bangunan, gempa juga menyebabkan warga mengungsi. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 715 warga masih berada di lokasi pengungsian, terutama di Kelurahan Mayau dan Perum Bersatu.
Rizal menyebut, sebagian warga memilih menjauh dari rumah untuk mengantisipasi gempa susulan. Untuk wilayah Bido dan Lelewi, kondisi sudah mulai kembali normal.
“Pengungsi terbanyak masih berada di Mayau dan Perum Bersatu. Warga lainnya memilih bertahan di sekitar rumah dengan tetap waspada,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan mendesak saat ini adalah bantuan untuk kelompok rentan, terutama balita dan lansia, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.
“Kebutuhan ini sudah kami laporkan kepada Wali Kota, dan diminta segera dikoordinasikan dengan BNPB serta Pemerintah Provinsi,” pungkasnya.









Komentar