Lingkungan

Ratusan Spesies Terdata, WBN Ungkap Kekayaan Hayati Tersembunyi Halmahera

Pemantauan Keanekaragaman Hayati. Foto: Dok WBN

Kekayaan keanekaragaman hayati di Halmahera, Maluku Utara, terus dipetakan melalui pemantauan yang dilakukan PT Weda Bay Nickel (WBN).

Pemantauan yang sebelumnya hanya dilakukan di enam titik kini diperluas menjadi 40 titik di wilayah operasional WBN. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat basis data keanekaragaman hayati sekaligus memastikan keberadaan dan kondisi berbagai spesies di habitatnya.

Pemantauan tersebut dilakukan bersama Universitas Khairun sebagai mitra penelitian dan telah berlangsung sekitar empat tahun.

Senior Rehabilitation Superintendent WBN, Fitri Rahmadani Ritonga, mengatakan pemantauan biodiversitas tidak hanya dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan.

Menurutnya, data hasil pemantauan menjadi dasar penting dalam menentukan kebijakan pengelolaan kawasan, termasuk mengidentifikasi wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi.

“Monitoring ini bukan sekadar untuk memenuhi kepatuhan, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan dan pengembangan,” kata Fitri.

Data tersebut kemudian digunakan dalam penyusunan dan penguatan Biodiversity Action Plan atau Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati WBN.

Empat Tahun Pantau Biodiversitas

Pemantauan dilakukan dengan sejumlah metode, mulai dari observasi langsung hingga penggunaan kamera jebak atau camera trap.

Pada kawasan yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi, pemantauan dilakukan secara berkala, termasuk dengan interval mingguan untuk mendapatkan data keberadaan satwa secara lebih akurat.

Upaya identifikasi keanekaragaman hayati di kawasan Halmahera sendiri telah berlangsung dalam rentang panjang. Studi identifikasi spesies dilakukan pada 2001–2008, kemudian dilanjutkan dengan survei pada 2010–2014.

Peneliti sekaligus dosen Universitas Khairun, M. Natsir Tamalene, mengatakan pemantauan berulang menjadi penting karena Halmahera berada di kawasan Wallacea.

Wilayah ini merupakan zona peralihan biogeografi yang memiliki tingkat endemisitas tinggi. Sejumlah spesies hanya ditemukan di wilayah tertentu dengan persebaran geografis yang terbatas.

“Karena berada di kawasan Wallacea, Halmahera memiliki kekayaan spesies dengan tingkat endemisitas yang tinggi. Karena itu, pemantauan di banyak titik menjadi penting untuk mengetahui perubahan dan keberadaan spesies dari waktu ke waktu,” ujarnya.

249 Spesies Tumbuhan Terdata

Hasil pemantauan mencatat sekitar 249 spesies tumbuhan yang telah diverifikasi.

Seed Collecting. Foto: Dok WBN

Dari jumlah tersebut, sekitar 81,1 persen merupakan spesies dengan persebaran umum. Sementara 8,8 persen tergolong endemik lokal, 5,6 persen memiliki persebaran hingga Papua, dan 1,2 persen memiliki persebaran antarwilayah hingga Filipina.

Sekitar 63 persen spesies tumbuhan tersebut ditemukan pada habitat primer.

Sementara untuk fauna, pemantauan mencatat sedikitnya 53 spesies burung, 28 jenis serangga, delapan mamalia, delapan amfibi, empat fauna tanah, dan tiga reptil.

Dari keseluruhan temuan fauna tersebut, terdapat 35 spesies pemicu atau trigger species dan 18 spesies yang masuk kategori dilindungi berdasarkan ketentuan pemerintah Indonesia.

Metode pemantauan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kelompok satwa. Burung, misalnya, diamati melalui pengamatan langsung maupun identifikasi suara. Sementara mamalia dipantau menggunakan kamera jebak.

Untuk kelelawar, reptil, mamalia kecil, dan satwa nokturnal, digunakan metode serta perangkap yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing spesies.

Satwa Endemik Terekam Kamera

Salah satu temuan menarik dalam pemantauan tersebut adalah Tikus Duri Boki Mekot (Halmaheramys bokimekot), satwa endemik Halmahera yang memiliki wilayah persebaran sangat terbatas.

Satwa tersebut berhasil direkam melalui kamera jebak dan ditangkap untuk kepentingan penelitian menggunakan Sherman live traps di salah satu titik pemantauan WBN.

Pemantauan Keanekaragaman Hayati. Foto: Dok WBN

Temuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat pemahaman mengenai keberadaan satwa endemik di kawasan operasional perusahaan.

Selain pemantauan rutin, WBN juga memperkuat basis data melalui Critical Habitat Assessment (CHA).

Dalam kajian tersebut, sebanyak 146 spesies target disurvei, termasuk spesies dengan status Critically Endangered, Endangered, Vulnerable, maupun spesies yang dilindungi pemerintah.

Hasil kajian mengidentifikasi 111 spesies sebagai critical habitat trigger species. Data ini kemudian menjadi salah satu dasar dalam penyusunan Biodiversity Action Plan.

Natsir menjelaskan, setiap spesies memiliki kemampuan berbeda dalam merespons perubahan habitat.

Spesies yang memiliki kemampuan bergerak terbatas dan bergantung pada koridor ekologis maupun tempat bertengger tertentu, misalnya, lebih rentan terhadap kehilangan dan fragmentasi habitat.

Hal serupa berlaku pada tumbuhan yang memiliki persebaran geografis terbatas atau membutuhkan kondisi habitat tertentu untuk tumbuh.

“Karakter setiap spesies berbeda. Ada spesies yang mampu beradaptasi dan berpindah, tetapi ada juga yang sangat bergantung pada kondisi habitat tertentu. Karena itu, perubahan dan fragmentasi habitat perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan keanekaragaman hayati,” jelas Natsir.

Jadi Dasar Perlindungan Habitat

Data hasil pemantauan kemudian digunakan untuk mengidentifikasi kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi pertimbangan dalam perencanaan kawasan perlindungan.

WBN juga menerapkan sejumlah langkah perlindungan di wilayah operasional. Seluruh pekerja maupun mitra kerja dilarang menangkap dan memperdagangkan satwa liar.

Perlindungan dilakukan melalui prosedur operasional, pengelolaan kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi, serta pemasangan tanda dan peringatan di lokasi yang diperlukan.

Fitri mengatakan, pemantauan lapangan, kerja sama akademik, kajian habitat, serta penyusunan Biodiversity Action Plan menjadi satu rangkaian pengelolaan biodiversitas berbasis data.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk memastikan fungsi ekologis tetap terjaga seiring dengan aktivitas operasional perusahaan di Halmahera.

“Data yang diperoleh dari lapangan menjadi dasar untuk menentukan langkah pengelolaan yang tepat, sehingga fungsi ekologis dan keanekaragaman hayati dapat terus dijaga,” pungkasnya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga