Hardiknas 2026: Capaian Literasi Morotai Menguat Signifikan

Kabid Kominfo Setda Pulau Morotai, Iwan Mauraji. Foto: Maulud Rasai

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus apresiasi atas capaian sektor pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai, khususnya dalam peningkatan literasi masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Melek Huruf (AMH) penduduk usia 15 tahun ke atas di Pulau Morotai menunjukkan tren fluktuatif dalam tiga tahun terakhir, namun cenderung mengalami penguatan. Pada 2023, AMH tercatat sebesar 97,41 persen, kemudian menurun menjadi 96,71 persen pada 2024, sebelum kembali meningkat signifikan hingga 98,62 persen pada 2025.

Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Media, Iwan Muraji, menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperluas akses serta meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.

“Peningkatan angka melek huruf pada 2025 menunjukkan bahwa upaya pemerintah daerah bersama masyarakat mulai memberikan hasil nyata. Ini bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan semakin banyak warga yang memiliki kemampuan dasar untuk membaca, menulis, dan mengembangkan diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Angka Melek Huruf merupakan indikator persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang mampu membaca dan menulis. Dengan capaian 98,62 persen pada 2025, hampir seluruh masyarakat Morotai dalam kelompok usia tersebut telah memiliki kemampuan literasi dasar.

Meski demikian, Iwan mengakui masih terdapat sebagian kecil masyarakat yang belum tersentuh secara optimal layanan pendidikan. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah daerah melalui penguatan program literasi dan pendidikan berkelanjutan, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses.

Menurutnya, penurunan AMH pada 2024 menjadi 96,71 persen menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain belum meratanya akses pendidikan, kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta masih adanya kasus putus sekolah dan keterbatasan layanan pendidikan nonformal.

Namun, pada 2025 pemerintah daerah melakukan sejumlah langkah penguatan, seperti perluasan layanan pendidikan dasar, penguatan pendidikan nonformal, serta penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif.

“Upaya ini mulai menunjukkan hasil. Pemerintah daerah terus berkomitmen memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari akses pendidikan,” kata Iwan.

Ia menambahkan, momentum Hardiknas juga menjadi pengingat bahwa peningkatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Literasi merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing di masa depan,” pungkasnya.

Penulis: Maulud
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga